Training Manajemen Kebencanaan part 1

Hari Kamis-Sabtu kemaren, aku mengikuti pelatihan manajemen kebencanaan yang diadakan oleh HRD untuk seluruh karyawan di cibodas, namun karena jika seluruh karyawan ikut dalam satu waktu pelatihan akan terlalu banyak dan tidak efektif, jadi pelatihannnya dibagi dalam tiga batch yaitu tgl 4-6 April kemaren, tgl 18-20 April dan yang terakhir tgl 2-5 Mei. Sebenernya jadwalku nanti batch yang kedua, tapi karena ada satu dan lain hal akhirnya aku minta pindah ke batch yang pertama. 

Tujuan diadakan pelatihan ini adalah agar setiap karyawan siap menjadi relawan dan menjadi bagian dari aksi kebencanaan yang dilakukan oleh DD selama ini, karena banyak karyawan yang baru dan memang belum mengetahui secara keseluruhan tentang pengelolaan bencana yang sudah dilakukan oleh DD, apalagi secara praktek sudah turun waktu aksi bencana banjir jakarta januari kemaren.


Hari Pertama
Keberangkatan yang jadwalnya seharusnya jam 7 tapi baru berangkat jam 1/2 9, setelah sebelumnya diadakan briefing, pengecekan perlengkapan yang harus dibawa dan selanjutnya acara pelepasan oleh Direktur Eksekutif bpk. AJ, dan berhubung banyak yang belum sarapan jadi kita pada melipir ke kantin buat sarapan, setelah itu ngumpul di depan karena 2 bus tronton untuk menuju tempat pelatihan sudah ada diterparkir di depan, wah asyik nih soalnya udah lama banget ga naik tronton ini, terakhir kali kelas 3 SMA waktu ada acara TA di cibatok,
 
Selama perjalanan yang awalnya rame cerita-cerita *maklum diisi sama perempuan semua*, makin lama makin sepi, ternyata banyak yang tidur hihihi, tapi begitu masuk ke ciawi menuju puncak udah pada bangun dan mulai berbagi ransum yang dibawa buat cemilan, dan kemudian jadi rame lagi. Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam, akhirnya nyampe juga di cibodas dan langsung disambut dengan derasnya hujan. Setelah hujan agak reda baru deh kita turun dari tronton dan langsung menuju lokasi dimana pelatihan diadakan, jadi kita masuk kawasan area perkemahan gunung gede pangrango di komplek danau, dan ternyata perjalanan kesana itu mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudra *lah malah nyanyi* beneran menanjak dan menurun, aku yang ga pernah olahraga ini jadi ngos-ngosan ditambah dengan bawaan yang berat.

Begitu nyampe ditempat pelatihan, udah berdiri 4 tenda, jadi Jangan bayangkan akan ada tempat tidur plus kasur dan bantalnya yah, yang ada adalah tenda pleton yang beralaskan terpal dan seluruh perserta perempuan digabung dalam satu tenda, begitu juga dengan perserta laki-lakinya digabung dalam satu tenda. Jadi 4 tenda itu merupakan 2 tenda untuk peserta, satu tenda besar untuk materi kelas dan satu lagi untuk panitia.

Setelah ishoma, maka dimulailah pembukaan pelatihan dan dibawah guyuran hujan, kita disuruh baris berbaris, pembagian menjadi 4  kelompok, lanjut bikin nama kelompok dan ga ketinggalan yel-yelnya dong, aku masuk ke kelompok satu, o..iya diantara kelompok lain yang menggunakan nama istilah kebencanaan seperti Badai, Tsunami dan Scala Ritcher, kelompokku dong yang beda sendiri dengan nama SIAGA yang diplesetin menjadi Siap Bergaya hihihii. Kalo ada yang nanya, pelatihan dibawah hujan emang ga takut sakit ? tenang kita pake jas hujan ko, tapi ada temenku yang ga bawa jas hujan dan dia pake payung aja gitu :D.

Setelah itu, lanjut ke materi kelas, jadi abis hujan-hujanan kita masuk ke tenda materi, dan jas hujannya ga perlu dibuka karena terpal alasnya juga basah. materi kelasnya dari ibu RS, yang menjelaskan tentang sejarah keterlibatan DD dalam dunia kebencanaan, dimulai tahun 94 waktu gempa liwa-lampung, sejak saat itu DD terus berperan membantu dalam setiap kebencanaan, hingga kemudian membentuk jejaring sendiri untuk pengelolaan bencana yang namanya saat ini adalah DMC (Disaster Management Center).  Setelah penyampaian materi kemudian kita ditugaskan untuk menjawab pertanyaaan perkelompok tentang alasan kenapa DD harus membantu ketika ada bencana, bagaimana pengelolaan kebencanaan DD, dan harapan kedepan tentang pengelolaan bencana di DD.

Setelah sesi tugas kelompok selesai, lanjut lagi dengan materi selanjutnya  oleh bpk. MAP, tapi sekarang materinya bukan ditenda lagi, melainkan diluar dan kita membuat lingkaran, isi materinya……ehm..ehm..*lupa-maapken*. Setelah selesai materinya balik ketenda dan sambil menunggu sholat kita bersih-bersih,eh disekitar tempat pelatihan ada  penjual cilok dan sekuteng akhirnya jajan-jajan dulu deh :D.

Abis sholat magrib & isya berjamaah lanjut kegiatan selanjutnya yaitu pergerakan malam, kalo masa ospek mungkin namanya jurit *or jurik* malam. Jadi kita berjalan kedalam kegelapan hutan pangrango  berkelompok dengan hanya 3 senter, aku yang emang dari awal udah takut gelap, sepanjang perjalanan ga berani nengok kiri kanan apalagi atas yang ada selama perjalanan aku nunduk terus sambil pegangan tangan sama temenku, nah selama perjalanan sempet berhenti beberapa kali gara-gara pacet yang nempel di kaki temenku, soal pacet ini udah dikasih tau sebelumnya makanya disuruh kalo bisa pake sepatu dan kaos kaki panjang, biar pacetnya ga nempel, tapi karena sebagian besar pake sendal gunung tanpa kaos kaki jadi yah itu banyak yang nempel juga.  Nah setelah 2/3 perjalanan dan melawati pinggir kebun, mataku mulai menyesuaikan dan baru bisa berani  melihat keadaan sekitar, baru deh aku berani melihat sekitar apalagi udah ada fotografer yang nungguin buat ngambil gambar kita, jadi yang ada malah narsis dulu heheheh. :D. Setelah perjalanan kurang lebih 1 jam, akhirnya nyampe juga, dan langsung pada ngecek kaki masing-masing buat ngeliat ada pacet atau ga, dan ternyata emang semua kena pacet, ada yang memang pacetnya lagi nyedot darah setelah diambil pacetnya langsung keluar darahnya, kalo aku alhamdulillah pacetnya cuma nempel disepatu dan kaos kaki jadi langsung dibuang dan bersih-bersih sepatu. 

Setelah semua kelompok udah balik ke lokasi, kita melakukan evaluasi tentang kegiatan tadi dan diberi tahu kalo alasan kenapa diadakan pergerakan malam, karena kita ga tau bagaimana dan seperti apa lokasi tempat bencana berada, bisa jadi disana tidak ada  penerangan karena instalasi listrik terputus sehingga jadi gelap total atau bahkan lokasinya terpencil sehingga kita harus menembus hutan untuk mencapai lokasinya. Karena itu sebagai relawan kita harus siap dalam kondisi apapun.

Setelah evaluasi kelar, dan selesai kegiatan selama satu hari, akhirnya waktu istirahat, jadi setelah bersih-bersih dan ganti baju, masuk ketenda dan mengeluarkan perlengkapan tidur masing-masing, ada yang bawa sleeping bag, ada yang bawa alasnya aja trus ditambah pake sarung, kalo aku bawa selimut panjang jadi bisa dipake alas plus selimut sekaligus plus bantal kecil, dan mungkin karena rasa cape dan lelah akhirnya tidur pulas dan siapin energi untuk kegiatan besok.

Bersambung…

Iklan

2 thoughts on “Training Manajemen Kebencanaan part 1

  1. Yaampun, isi materinya lupa *tepok jidat*
    Eh tapi ngomong-ngomong soal pacet, kayaknya bisa dijadiin salah satu pengobatan tradisional, deh. Kalo gk salah inget, hehehe..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s